1. PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Intelektual D. zawawi Imron
D. Zawawi Imron yang sering disebut penyair celulit emas lahir di desa Batang-batang di ujung timur Pulau Madura. Beliau hanya mendapat pendidikan Sekolah Rakyat, kemudian melanjutkan ke Pesantren Salaf selama satu setengah tahun.
D.Zawawi Imron termasuk salah satu penyair Indonesia yang paling memukau dalam kesusustraan Indonesia dewasa ini. Kadang agak susah dalam menyelami sebagian sajak-sajak beliau, tetapi sebagian masyarakat begitu terseret gelombang baris-baris sajaknya.Sebagian sajak-sajaknya banya melukiskan alam dan lubuk jantung. Sajak Bulan Tertusuk Ilalang Zawawi (1982) memberi inspirasi sutradara Garin Nugroho dalam membuat film layar peraknya dengan judul Bulan Tertusuk Ilalang. Kumpulan sajaknya Nenek Moyangku Airmata (1985) mendapat hadiah sebagai bukumpuisi yang terbaik dari Yayasan Buku Utama. Tahun 1990 kumpulan sajaknya Celurit Emas dan Nenek Moyangku Airmata terpilih sebagai puisi terbaik oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Tahun 1995, sajaknya Dialog Bukit Kamboja keluar sebagai pemenang pertama dalam Sayembara Nasional Menulis Puisi 50 Tahun Kemerdekaan RI yang diadakan oleh salah satu stasiun swasta. Kumpulan sajaknya yang lain adalah Bantalku Ombak Selimutku (2000) dan Madura, Akulah Darahmu (1999). D. Zawawi Imron menjadi penulis kolom di beberapa media masa dan mejadi penyaji seminar masalah sastra, agama, dan kebudayaan. Selain itu, beliau jauga pernah mengajar di beberapa perguruan tinggi di Madura serta ikut menulis skenario Indonesia Masa Depan. Beliau juga sering menghadiri pembacaan puisi di berbagai Negara, antara lain di Singapura, Malaysia, dan Belanda.
Penulis tertarik menganalisis kumpulan puisi Kujilat manis Empedu karya D, Zawawi Imron, Karena secara menyeluruh sajak yang berada dalam kumpulan puisi Kujilat Manis Empedu kaya akan metafora dan symbol. Penulis menunjukkan kepiawaiannya dalam memadupadankan simbol-simbol yang berjauhan sifat dan hakekatnya itu, selain itu puisi karya D. Zawawi Imron menimbulkan keingin tahuan para pembaca untuk meneliti sasak-sajak dalam kumpulan puisi “Kujilat Manis Empedu”.dengan menggunakan teori Hermeneutika Paul Ricoeur.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat diambil rumusan bagaimana metafora dalam kumpulan sajak Kujilat Manis Empedu bagaimana memaknai simbol “Kasidah” dalam puisi “Lagu Rahasia” karya D. Zawawi Imron, penelitian ini menggunakan teori secara hermeneutika Paul Ricoeur. Hermeneutika digunakan sebagai teori untuk mengungkap konsep “doa” yang terepresentasikan dalam kumpulan puisi Kujilat Manis Empedu.
1.3 Tujuan Penelitian
Pembacaan hermeneutik dalam kumpulan sajak Kujilat Manis Empedu ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami makna yang terkandung didalamnya. Dari penelitian ini diharapakan pembaca dapat lebih mudah untuk memahami dan menafsirkan sajak-sajak karya D. Zawawi Imron secara teori.
2. KAJIAN TEORI
2.1 Teori Hermeneutika Paul Ricoeur
Hemeneutika adalah teori tentang bekerjanya pemahaman dalam penafsiran teks (Ricoeur,1981: 43) dan Pamer (2003:8) menjelaskan bahwa dua focus dalam kajian hermeneuitika mencakup; (1) peristiwa pemahaman terhadap teks, (2) persoalan yang lebih mengarah mengenai pemahaman dan interprestasi. Hal ini memperliakan bahwa gagasan utama dalam hermenutika adalah pemahaman pada teks.
Ricour (1981: 146) menjelaskan bahwa teks adalah sebuah wacana yang dibakukan lewat bahasa. Apa yang dibakukan oleh tulisan adalah wacana yang diucapkan. Di sini, terlihat bahwa teks merupakan wacana yang disampaikan dengan tulisan. Jadi, teks sbagai wacana, yang dituliskan dalam hermeneutika Paul Ricour, berdiri secara otonom, bukan merupakan turunan dari bahasa lisan, seperi yang dipahami oleh struktualisme.
2.2 Teori Simbol
Kata “simbol” yang berasal dari kata Yunani sumballo berarti “menghubungkan atau menggabungkan” . symbol merupakan suatu tanda, tetapi tidak setiap tanda adalah simbol. Simbol yang berstruktur polisemik adalah ekspresi yang mengkomunikasikan banyak arti. Bagi Ricoeur, yang menandai suatu tanda sebagai simbol adalah arti gandanya atau intensionalitas arti gandanya. Ricouer merumuskan bahwa setiap struktur pengertian adalah suatu arti langsung primer, harfiah, yang menunjukkan arti lain yang bersifat tidak langsung sekunder, figuratif yang tidak dapat dipahami selain lewat arti pertama (Poespoprodjo, 2004: 119).
Ricouer mendefinisikan simbol sebagai struktur penandaan yang di dalamnya ada sebuah makna langsung, pokok atau literer menunjuk kepada makna tambahan, makna lain yang tidak langsung, sekunder dan figuratif yang dapat dipahami hanya melalui yang pertama. Pembebasan ekspresi dengan sebuah makna ganda ini mengatakan dengan tepat wilayah hermeneutic (Bleicher, 20003: 376).
2.3 Teori Metafora
Metafora kata Monroe, adalah “puisi dalam miniature”. Metafora menghubungkan mamakna harfiah dengan makan figuratif dalam karya sastra. Dalam hal ini, karya sastra merupakan karya wacana yang menyatukan makna eksplisit dan implisit. Dalam tradisi positivisme logis, perbedaan antara makna eksplisit dan implisit di berlakukan dalam perbedaan antara bahasa kognitif dan emotif, yang kemudian dialihkan menjadi perbedaan menjadi vocabuleri denotasi dan konotasi. Denotasi dianggap sebagai makna kognitif yan merupakan tatanan semantik, sedangkan konotasi adalah ekstra-semantik. Konotsi terdiri ataas seruan-seruan emotif yang terjadi serentak yang nilai kognitifnya dangkal. Dengan demikian arti figuratif suatu teks harus dilihat sebagai hilangnya makna kognitif apapun. Karya sastra dibuka oleh saling berpenngaruhnya makna-makna ini, yang memusatkan analisisnya pada desain verbal, yaitu karya wacana yang menghasilkan ambiguitas semantik yang mencirikan suatu karya sastra. Karya wacana inilah yang dapat dilihat dalam miniatur dalam metafora (Ricoeur, 1976: 43).
2.4 Teori Konsep
Konsep makna ini mengacu pada apa yang dilakukan pembaca dan apa yang dilakukan kalimat. Makna teks sebagai proposisi merupakan sisi “objektif” makna ini. Sisi “objektif” wacana itu sendiri bisa dijelaskan dengan dua cara berbeda. Boleh dartikan “apa” wacana dan “tentang apa” wacana. “Apa”-nya wacana adalah sense dan “tentang apa” wacana adalah reference nya. Jika sense itu imanen terhadap wacana dan objektif dalam arti ideal, sedangkan reference mengungkapkan gerak ketika bahasa melampaui dirinya sendiri. Dengan kata lain sense berkolerasi dengan fungsi identifikasi dan fungsi predikatif dalam kalimat, dalam reference menghubungkan bahasa dengan dunia (Ricoeur, 1976:19 & 1981:167-168).
3. ANALISIS DAN HASIL PEMBAHASAN
Untuk mencapai tingkat pemaknaan dalam perpuisian D. Zawawi Imron khususnya sajak “lagu rahasia” dalam kumpulan puisi “kujilat manis empedu” karya D. Zawawi Imron ini, penulis menganalisis symbol dan metafora yang terdapat di dalamnya. Berikut kajiannya:
3.1 Sajak Lagu Rahasia
Lagu Rahasia
Kasidah itu dinyanyikan tanpa suara
Dalam sebuah konser sunyi
Tapi rumpun ilalang seperti mendengarnya
Buktinya gelagas- gelagas mensri
Sambil melambai bulan yang sedang menari
Kasidah itu aturannya
Tak boleh didengar telinga
Agar daun-daun rahasia
Semakin memancarkan pesona
Kasidah itu tetap berirama, berarom
Meskipun gender, dan gendangnya tak kedengaran
Sapi-sapi karapan tiba-tiba menderu
Di atas padang beludru
Aku sendiri tak yakin
Tapi tak ragu
Bahwa bulan bsa bercermin
Pada air susu yang dialirkan sebuah lagu
3.2.1 Simbol Dalam Sajak “Lagu Rahasia”
Simbol “lagu rahasia” dalam sajak ini bukan sekedar suara yang dikeluarkan dengan sembunyi-sembunyi. Lagu rahasia disini, dimaksudkan pada doa yang dipanjatkan hamba kepada Tuhan-nya. Hal ini merupakan wujud orientasi cinta hamba terhadap Tuhannya Dalam jiwa spiritual yang dimiliki “aku-lirik” menyadari dan percaya akan kelebihan dari kasidah yang dikeluarkan di dalam hati (doa.).
Berikut pemaknaan menyeluruh terhadap symbol yang ada pada sajak “lagu rahasia” :
(1) Kasidah itu dinyanyikan tanpa suara
Dalam sebuah konser sunyi
Tapi rumpun ilalang seperti mendengarnya
Buktinya gelagas-gelagas menari
Sambil melambai bulan yang sedang sendiri
Simbol “kasidah” yang dinyanyilkan tanpa suara oleh aku lirik diasumsikan sebagai doa yang dipanjatkan kepada sang Kholik. Doa yang dipanjatkan kepada sang Kholik pada waktu tengah malam. Hal ini terlihat pada baris kedua dan ke empat. // dalam sebuah konser sunyi// sambil melambai bulan yang sedang sendiri// . yang menggambarkan keadaan malam. Karena malam itu sendiri biasanya ditandai dengan adanya bulan. Dan malam itu sendiri identik dengan keadaan yang sepi dan sunyi.
Makna keseluruhan dari bait di atas adalah aku-lirik mengasumsikan bahwa waktu yang tepat untuk bermunajat kepada sang Kholik yaitu pada waktu malam hari. Hal ini sesuai dengan Q.S : Al Muzzamil ayat 6:
“sesungguhnya bangun diwaktu malam adalah lebih tepat dan bacaan di waktu malam lebih berkesan”
Maksud dari ayat diatas adalah waktu yang paling baik saat bermunajat kepada sang Kholik adalah pada saat tengah malam. Karena pada waktu siang hari manisia disibukkan dengan aktivitas-aktivitas.
Bait diatas juga mempunyai pemaknaan yang sama dengan sajak “malam” karya D. Zawawi Imron,pada bait:
Selembar dawai kupanjat
Baru beberapa saat kaki kuangkat
Ada saran lembut untukku
Agar aku mengucap
Terima kasih kepada gelap
Simbol “selembar dawai” yang dipanjat aku-lirik diasumsikan sebagai doa yang dipanjatkan. Hal ini juga yang terdapat pada sajak “lagu rahasia” karya D. Zawawi Imron. //kasidah itu dinyanyikan tanpa suara//. Kasidah dalam sajak lagu rahasia diasumsikan sebagai doa yang dipanjatkan.
Pada sajak “malam” juga mmenggambarkan bahwa bermunajat yang baik adalah pada waktu malam hari, karena aku-lirik meraskan ketenangan dan ketentraman yang diperoleh aku-lirik saat bermunajat pada malam hari.
(2) Kasidah itu aturannya
Tak boleh didengar telinga
Agar daun-daun rahasia
Semakin memancarkan pesona
Bait diatas menjelaskan bagaimana berdoa yang paling baik, doa yang paling baik yaitu berdoa dimana orang lain tidak mengetahui dan doa yang dipanjatkan didalam hati akan terasa lebih khusuk, sehingga doa yang dipanjatkan manusia “aku-lirik” akan didengar oleh Sang Kholik. Hal ini tercermin dari sifat Sang Kholik sendiri, yaitu al-Bathin (misteri) merupakan salah satu nama Allah yang baik (99 Asmaul Husna). Sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’anul Karim;
"Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi". (QS. Thaaka:7)
Maksud dari ayat diatas yaitu dalam berdoa tidak perlu mengeraskan suara, karena Allah SWT mendengar semua doa yang dipanjatkan umatnya, walaupun dengan suara rendah dan di dalam hati.
(3) Kasidah itu tetap berirama, beraroma
Meskipun gender dan genderangnya tak kedengaran
Sapi-sapi kerapan tiba-tiba menderu
Diatas padang beludru
Bait diatas masih meneruskan penjelasan terhadap bait sebelumnya. Bahwa doa yang tulus ikhlas akan didengar oleh Sang Kholik. Walaupun doa-doa tersebut tidak dapat didengar oleh orang lain, tetapi Allah SWT mendengar doa-doa yang dipanjatkan oleh umatnya. Pada bait ke tiga, pada baris ketiga dan keempat, merupakan penjelas baris sebelumnya.
(4) Aku sendiri tak yakin
Tapi tak ragu
Bahwa bulan bisa bercermin
Pada air susu yang dialirkan pada sebuah lagu
Pada bait terakhir ini, aku-lirik merasa tidak yakin doanya akan terkabul. Tetapi aku-lirik kemudian sadar dan percaya, bahwa doa yang dilakukan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh akan didengar oleh Sang Pencipta dan dengan doa yang dilakukan dengan keikhlasan akan memberikan kebaikan dan berkah dari Sang Pencipta. “aku-lirik” sadar dan percaya Allah SWT tidak akan membiarkan umatNya mengalami kesusahan yang berkepanjangan. Allah SWT akan menolong setiap umat yang meminta bantuan kepadaNya : Sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’anul Karim :
“Allah tidak akan menghampakan permohonan dan permintaan hamba-Nya lebih-lebih lagi yang beriman dan beramal soleh kerana Allah sangat dekat kepada setiap hamba-hamba-Nya. "Berdoalah kepada Tuhan kamu dengan merendah diri dan (dengan suara) perlahan. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas”.(Q.S Al-A’raf : 55)
3.2.2 Metafora Dalam Sajak “ Lagu Rahasia”
Judul sajak “lagu rahasia” menyiratkan suatu arti tentang suatu nyanyian yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Kata “lagu” berhubungan dengan suara yang dikeluarkan oleh seseorang. Lagu berarti “nyanyian” yaitu ragam suara yang berirama dalam berbicara, sedangkan kata “rahasia” berhubungan dengan sesuatu hal yang disembunyikan (tidak secara terang-terangan ) agar orang lain tidak dapat mengetahui. Judul “ lagu rahasia” tidak hanya menyiratkan tentang nyanyian yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Tetapi, judul diatas menyiratkan tentang nyanyian yang dikeluarkan dari dalam hati yaitu doa yang dipanjatkan kepada Sang Kholik.
Kasidah itu, dinyanyikan tanpa suara
Dalam sebuah konser sunyi
Tapi rumpun ilalang seperti mendengarnya
Buktinya gelagas-gelagas menari
Sambil melambai bulan yang sedang sendiri
Bait pertama di atas menggambarkan nyanyian yang dipanjatkan kepada Sang Kholik, yaitu doa. Yang diucapkan di dalam hati. Metafora- penyataan (statement-metaphor) muncul proposisi pada bait pertama, baris pertama: “Kasidah itu, dinyanyikan tanpa suara”, disebut metafora –pernyataan (statement-metaphor) karena komposisinya sudah mempunyai syarat sebagai komposisi, yaitu minimal dibangun atas unsur subjek sebagai identifikasi-tunggal (identifikasi-singuler) “kasidah itu”, unsur predikasi-umum (identifikasi-universal) “dinyanyikan”, sedangkan “ dalam sebuah konser sunyi “ merupakan atribusi-keterangan keadaan.
“Kasidah itu, dinyanyikan tanpa suara” menggabungkan dua dunia yang berbeda (defference) yang absurditas dalam keserupaan(resemblance). “kasidah” merupakan nyanyian yang harus dikeluarkan dengan suara yang keras. Sedangkan “tanpa suara” berarti tidak berbunyi,sunyi, hening. Tidak mungkin apabila nyanyian dikeluarkan tanpa suara, aturannya nyanyian harus dikeluarkan secara lantang agar didengar oleh orang banyak dan orang dapat menikmati suara merdu yang dikeluarkannya. Keabsurditasan kalimat-metaforis “kasidah itu, dinyanyikan tanpa suara” menyiratkan sebuah nyanyian yang dikeluarkan dari dalam hati dengan didukung oleh suasana yang sunyi, sepi agar tidak didengar oleh orang banyak. Maksud dari nyanyian itu adalah doa yang dipanjatkan pada waktu malam hari.
Kasidah itu aturannya
Tak boleh didengar telinga
Agar daun-daun rahasia
Semakin memancarkan pesona
Pada bait diatas terdapat metafora-kata (word-metaphor), yaitu pada baris pertama “kasidah itu aturannya” sebagai figurasi ornamental, yang oleh Recouer disebut juga dengan metafora mati atau metafora inventif (Recouer,1976 ;43), yaitu metafora yang tidak menciptakan perluasan makna tambahan (surplus meanin). “Tak boleh didengar telinga” berfungsi sebagai atribusi-keterangan penjelas. Sedangkan baris berikutnya, yaitu pada baris ketiga dan keempat merupakan penjelas baris sebelumnya.,
Pada bait kedua menjelaskan bagaimana cara berdoa yang paling baik. yaitu berdoa dimana orang lain tidak mengetahui apa yang akan dipanjatkan, dilakukan di dalam hati , berdoa dengan khusuk dan penuh keikhlasan. Walaupun oaring lain tidak mengetahui dan tidak mendengarkan doa yang dipanjatkan, terapi Sang Khalik mendengarkan semua doa yang dipanjatkan oleh hambaNya dan mengetahui siapa saja yang membutuhkan bantuanNya. Karena Allah SWt tidak akan membiarkan hambaNya mendapatkan kesulitan. Ketentuan berdoa yang paling baik juga dijelaskan dalam Al-Qur’an
Kasidah itu tetap berirama, beraroma
Meskipun gender dan gendangnya tak kedengaran
Sapi-sapi kerapan tiba-tiba menderu
Diatas padang beludru
Pada bait ke tiga diatas terdapat metafora-pernyataan ( statement-metaphor) , yaitu pada baris pertama “kasidah itu berirama, beraroma”. “kasidah itu” merupakan unsure subjek sebagai identifikasi –tunggal (identifikasi-singuler), “ tetap berirama,beraroma” merupakan unsur pridikasi-umum (identifikasi-universal). Sedangkan “meskipun gender dan gendangnya tak kedengaran” merupakan atribusi-keterangan penjelas.
Metafora- pernyataan (statement-metaphor) juga terdapat pada baris ketiga “ sapi-sapi kerapan tiba-tiba menderu”. Unsure subjek sebagai identifikasi-tunggal (identifikasi-singuler) yaitu pada “sapi-sapi kerapan”, “tiba-tiba menderu” merupakan unsure predikasi-umum (identifikasi-universal),sebagai predikasi meN-deru. Sedangkan “diatas padang beludru” merupakan atribusi-keterangan tempat.
Aku sendiri tak yakin
Tapi tak ragu
Bahwa bulan bisa bercermin
Pada air susu yang dialirkan sebuah lagu.
Pada bait terakhir sajak “lagu Rahasia” terdapat adanya metafora-pernyataan (statement-metaphor), yaitu pada baris ke tiga : “bahwa bulan bisa bercermin”, “bulan” merupakan subjek sebagai identifikasi-tunggal (identifikasi-singuler). “Bercermin” merupakan predikasi-umum ( predikasi universal). Pada baris selanjutnya “pada air susu yang dialirkan sebuah lagu” merupakan atribusi-keterangan keadaan.
3.2.3 Konsep Orientasi Cinta dalam sajak “Lagu Rahasia”
Dalam kehidupan, manusia tidaklah bisa hidup tanpa bantuan dari orang lain. Hal ini ada sebuah perwujudan sesama manusia saling membutuhkan. Tidak hanya dengan sesama manusia, seseorang dalam menjalani kehidupan juga membutuhkan pertolongan dari Yang Maha Kuasa.
Konsep orientasi cinta Allah pada sajak “Lagu Rahasia” berangkat dari kesadaran “aku-lirik” sebagai hamba Allah yang selalu membutuhkan setiap pertolongan-Nya. Kasidah yang dinyanyikan merupakan doa. Konsep doa lahir pada bait pertama dalam pemikiran islam, doa adalah perkataan. Doa banyak terdapat dalam al-Quran dalam berbagai pengertian. Doa merupakan satu ibadah. Firman Allah :
"Dan janganlah kamu berdoa kepada selain Allah, iaitu kepada sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfaat kepada engkau dan tidak kuasa pula mendatangkan mudarat kepada engkau". (Q.S Yunus :106 ). Doa yang dipanjatkan “aku-lirik” kepada Sang Pencipta untuk mendapatkan ketenangan dan kemudahan dalam menghadapi hidup.. Hal ini merupakan wujud Orientasi cinta hamba kepada Tuhannya.
Tidak hanya wujud orientasi cinta hamba kepada Tuhannya, dalam sajak “lagu Rahasia” juga terkandung wujud orientasi cinta Allah SWT kepada hambanya. Cinta sendiri pada hakikatnya merupakan refleksi dari dari disiplin keimanan dan kasih saying yang terpuji, bukan sayang yang tercela yang menjerumuskan ke jalan yang tidak diridhoi Allah SWT.. Dalam sajak “ Lagu Rahasia” terkandung pengertian bahwa Allah SWT akan mendengarkan doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan dan kekusyukan oleh hamba-Nya. Kesadaran trandersental “aku-lirik” dalam sajak “Lagu Rahasia” dalam hubungannya dengan Yang Maha Kuasa yaitu : sebagai makhluk yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa, maka harus berserah diri kepada Allah SWT, mematuhi perintah-Nya, dan selalu percaya kepada-Nya. Hal ini berdasarkan firman Allah : "Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada mereka): Sesungguhnya Aku sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu. Maka hendaklah mereka menyahut seruanKu (dengan mematuhi perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu supaya mereka menjadi baik serta betul”.( surah al-Baqarah: 186).
3.2 Sajak ”Semua yang Tumbuh” Karya ”D.Zawawi Imron” 5 ( D.Zawawi imron,semua yang tumbuh, ygyakarta:Gama Media 2003)hal 155
Semua yang Tumbuh
Jangan cepat-cepat menyesal
Segala yang tumbuh tak selalu ditanam
Angin dan hujan hanya bagian dari cobaan
Siapa bilang roh tak ingin berlayar
Untuk seutas esok
Tak hanya percik-percik matahari
Juga perlu segantang kenangan
Semua yang tumbuh
enaknya memang disiram
2000
3.2.1 Metafora Dalam Sajak “Semua yang Tumbuh”
Judul “Semua yang Tumbuh“ Karya D.Zawawi imron, menyiratkan sesuatu arti tentang keadaan ”aku-lirik” yang berhubungan dengan kehidupan.”Semua yang Tumbuh” dimaksudkan sebagai semua hal yang kita hadapi dalam kehidupan akan selalu ”Tumbuh” hidup. Yang terjadi adalah ”aku-lirik” ingin menjalani kehidupan ini tidak hanya melihat masa depannya saja tetapi juga mengenang masa lalu. Dalam hal ini lebih dimaknai sebagai pencarian hakikat “kehidupan”. Dalam pencarian arti ini akan terjadi dialektika antara dunia empiris dengan idealis (Wachid B.S., 2005: 134).
(1) Jangan cepat-cepat menyesal
...
Baris pertama di atas menunjukan satu proposisi, yang menyatakan suatu ”himbauan” atau larangan dengan kata predikasi ”jangan”. Isi perintahnya terdiri atas: ”jangan cepat-cepat menyesal” mudah putus asa dan menyesal dalam menghadapi hidup.”Cepat-cepat menyesal” sebagai atribusi keterangan; yang mencitrakan suatu himbauan kepada kita untuk tetap tegar dalam menjalani hidup, walaupun berat tapi inilah jalan kita, inilah garis kita sebagai hakikat manusia. Kita harus banyak-banyak tawakal kepada Allah, dengan beribadah kepada-Nya sebagai kewajiban kita seperti dalam hadist Nabi Muhammad SAW: ” Jagalah Allah, niscaya engkau akan bersama-Nya. Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Ia akan mengenalimu di waktu susah. Ketahuilah bahwa segala perbuatan salahmu belum tentu mencelakaimu dan musibah yang menimpamu belum tentu akibat kesalahanmu keatahuilah bahwa kemenangan beserta kesabaran, kebahagian beserta kedukaan, dan setiap kesulitan pasti ada kemudahan”. 6 (HR.Bukhari Muslim) Thaohaa’ aasyur, 301 Hadits pilihan (Jakarta: Pustaka AMANE,1979), Hal 119)
(1) ...
Segala yang tumbuh tak selalu ditanam
...
Pada baris kedua, bait pertama ini menunjukan metafora-kata (word-metaphor) kerena ketegangan yang di hadirkan, sebagai hakikat semuanya yang tumbuh sebagai sifat yang haruslah ditanam terlebih dulu, tapi di sini tidak dikatakan demikian. Di sinilah muncul ketegangan itu. “Segala yang tumbuh tak selalu ditanam”, maksudnya adalah amal perbuatan manusia tidak harus selalu dibuktikan dengan perbuatan. ”Segala yang tumbuh” tentulah hadir karena mengikuti karakteristik kehidupan, yaitu kehidupan yang memang harus selalu berkembang ”tumbuh” yang dilanjutkan dengan ”tak selalu ditanam”, terjadi pertentangan dalam baris ini. Pada hakikatnya semua yang tumbuh haruslah ditanam tarlebih dahulu. Hal ini perlu pemahaman dikotomik dalam memandang kehidupan tentang kebermaknaan hidup yang selau ”tumbuh”.
Dengan demikian, hubungan baris pertama dan kedua ”jangan cepat-cepat menyesal// Segala yang tumbuh tak selalu ditanam” menyatakan suatu yang bersifat menenangkan, bahwa manusia jangan begitu saja menyesal dengan perbuatan-perbuatan yang dilakukan dalam hidupnya kerena mungkin ada amal-amal baiknya yang tak terasa telah tumbuh dan hal itulah yang menjadi penyeimbang yang mengarah kepada ”keselamatan hidup”. Hal inilah yang disadari ”aku-lirik” bahwa hakikat tumbuh adalah berkembang menjadi lebih tinggi, seperti kehidupan yang yang berjalan maju.
Hal yang sama juga terdapat pada sajak ”Tersenyumlah”. 7 (D.Zawawi Imron, kujilat manis empedu(Yogyakarta:Gama Media,Februari 2003), Hal 225)
...
agar ranting-ranting bertunas
dan melebatkan daun-daun dalam lagu
memang hanya ranting
tapi di situlah burung kecil bersarang
mengerami telur-telurnya
dan menyayikan wajahmu yang ceria
Dalam penggalan sajak di atas, keterkaitan pemaknaan dengan baris kedua, bait pertama sajak ”Semua yang Tumbuh”. Pada bait diatas, menunjukkan proposisi yang menyatakan ”Harapan” kepada Allah untuk ”menjalani kehidupan itu harus diimbangi dengan ibadah”.
”Agar ranting-ranting bertunas”, maksudnya agar harapan yang kita inginkan dapat terwujud kita harus berusaha dengan beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.”Dan melebatkan daun-daun dalam lagu” dan memperbanyak ibadah dan nilai keimanan kepada Allah. Pada hakekatnya lagu berirama jadi lagu dapat diisyaratkan seperti kehidupan.
”//Memang hanya ranting/ tapi di situlah burung kecil bersarang/mengerami telur-telurnya/...” di sini ”Ranting” diartikan sebagai tempat bertumpu dalam artian manusia dalam mewujudkan harapan harus memiliki motivasi dalam menjalani hidupnya. Dengan motivasi, keinginan ”aku-lirik” dalam proses menetasya telur-telur yang telah dierami sebagai wujud tercapainya tujuan hdipnya. ”Aku-lirik” akan lebih semangat dalam menjalani hidup, dan disitulah harapan dan cita-cita yang diinginkan akan terwujud. ”Menyanyikan wajahmu ceria”, yang maksudnya menjalani kehidupan tetap dengan hati yang ikhlas. Tidak perlu ditonjol-tonjolkan apa yang telah dilakukan yang penting adalah hidup kita berguna dan bisa bermanfaat bagi orang lain.
(1) ...
Angin dan hujan hanya bagian dari cobaan
Siapa bilang roh tak ingin berlayar
Baris ketiga di atas merupakan lanjutan dari keterangan ”menyesal” pada baris pertama sebagai subjek pokoknya atau identifikasi-singular. ”Angin dan hujan hanya bagian dari cobaan” sebagai atribusi-keterangan. ”Angin” dengan ”hujan” dimaknakan bahwa dalam hidup pasti akan ada cobaan yang menerpa.
Dalam kasus ini, pandangan yang muncul atas ”angin dan hujan hanya bagian dari cobaan” adalah sebagai suatu bagian yang ringan dari suatu yang lebih besar (berat). ”Angin” yang bila sepoi menyejikan dan ”hujan” bila rintik menyirami bisa saja menjadi besar dan menjadi sebuah bencana. Oleh karena itu proposisi di atas menunjukkan hadirkan metafora-pernyataan (statement-metaphor) yang dibentuk dari metafora-kata, maka pemaknaanya di hadirkan dalam konstruksi kalimat atau proposisi. Hal ini dipahami oleh Ricoeur (1976: 47 via Kurniawan 2009: 178) bahwa metafora harus dihubungkan dengan semantik kalimat sebelum ia berhubungan dengan semantik kata. Metafora hanya berarti dalam tuturan (kalimat), metafora merupakan fenomena prediksi, bukan denominasi. Dengan demikian analisis metafora pada baris di atas didasarkan pada konteks kalimatnya.
”Siapa bilang roh tak ingin berlayar”. Proposisi di atas terdiri dari metafora-pernyataan(statement-metaphor) karena menyatakan ”kau” dalam hal ini juga bisa menjalani kehidupan ini dengan baik. ”Roh” yang hakikatnya dzat yang tak terlihat tetapi ada, hal ini bisa diartikan sebagai teguran terhadap manusia. ”Roh” yang ghoib saja ”ingin berlayar”, dalam artian menjalani kehidupan harusnya kita manusia juga harus memiliki keinginan yang sama bahkan lebih dengan sebaik-baiknya.
Hal serupa juga terdapat pada sajak ”Sajak Sungai”. 8 Endnote(D.Zawawi imron, kujilat manis empedu.yogyakarta:Gama media februari 2003)hal 16)
Sungai berliku-liku
berliku sungai dalam diriku
Perahu-perahu berpacu
mencari hakikat angin yang tiarap
...
Dalam penggalan sajak diatas, keterkaitannya pemaknaan dalam baris ketiga bait pertama ”Semua yang Tumbuh”. Pada bait diatas menyatakan suatu pernyataan ”sungai berliku-liku” yang mengisyaratkan sungai sebagai jalan kehidupan dan dalam kehidupan itu sendiri akan ada cobaan.
”Perahu-perahu berpacu”, maksudnya dalam menghadapi kehidupan yang penuh dengan cobaan kita harus tetap ikhlas demi ridho Allah dan tetap berlomba-lomba dalam kebaikan. Kemuliaan seseorang disisi Allah bukan karena amalnya yang banyak tapi karena cobaan yang di berikan Allah yang tidak kita sukai (kemudian kita ridho).
Dalam baris ketiga bait pertama makna antara sajak ”Semua Tumbuh” dapat diartikan ”angin dan hujan hanya bagian dari cobaan” di sini ”angin dan hujan” direpresentaikan sebagai ”ujian hidup” dalam menjalani hidup di dunia manusia tidak akan terlepas dari cobaan karena cobaan dari kehidupan itu sendiri.
(2) Untuk seutas esok
Tak hanya percik-percik matahari
Juga perlu segentang kenangan
Tiga baris pada bait kedua di atas, mengasosiasikan sesuatu yang panjang, kata ”seutas esok” dimaknakan sebagai masa depan yang masih panjang. ”Seutas” yanng hakikatnya adalah tali, tali yang panjang. Objektifikasi ”tak hanya percik-percik matahari”, atribusi-keterangan sebagai metafora-pernyataan (statement-metaphor) dimaksudkan ”matahari” sebagai ”harapan” karena pada hakekatnya matahari adalah sinar yang sangat terang dalam kehidupan sebagaimana dengan harapan sebagai sinar terang tentang gambaran masa depan manusia, sebab dalam menjalani kehidupan manusia juga perlu harapan. Dengan harapan manusia akan memiliki motifasi agar hidupnya lebih baik, agar menjadi manusia yang diinginkan Allah, yang diridloi oleh Allah.
”Juga perlu segentang kenangan” kenangan di sini dimaknakan sebagai masalalu karena dalam menjalani kehidupan juga membutuhkan masa lalu, sebab masa lalu akan membuat kita belajar tentang hidup untuk masa depan. Kenangan pula lah yang akan mengingatkan manusia pada hal-hal yang telah diperbuatnya sehingga bisa menjadi pelajaran dalam menghadapi masa depan. Hal ini berkaitan dengan ”harapan” sebagai hal yang belum terjadi. Kenangan sebagai sesuatu yang telah terlewati tentunya menyisakan beribu pelajaran yang akan dipakai sebagai pembelajaran untuk ”seutas esok”.
(3) Semua yang tumbuh
enaknya memang disiram.
Baris pertama, pada bait ketiga diatas, menunjukan atribut-penjelasan atas ”semua yang tumbuh” yang melukiskan kehidupan semua ciptaan Allah yaitu yang tumbuh dan kita sebagai manusia termasuk di dalamnya sebagai makhluk yang tumbuh dalam artian tumbuh kedewasaannya dan keimanannya. Sebagai proposisi, identifikasi singular, Baris pertama yang dijelaskan oleh baris kedua ”Semua yang Tumbuh” yang dimaksudkan” Semua mahluk yang hidup” yang ”enaknya memang disiram”. Disiram disini berarti Ibadah yaitu dalam menjalani hidup akan lebih sempurna apabila kita juga beribadah kepada Allah dan menambahkan nilai ketakwaannya dalam proses pangartian hidup yang sesungguhnya.Karena bagi orang yang beriman dan beramal shaleh pahala tidak putus bagi mereka. Sebaliknya, apabila kita lupa dan ingkar kepada Allah, Allah akan memberikan azab yang pedih bagi kita.
Seperti yang tersurat pada Al- Qur’an surah Al-Insyqaq ayat 19 : ”Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan)”. Kemudian dalam surah Al-Insyqaq ayat 25: ” Tetapi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka yang tiada putus-putusnya”. 9 Al- Qur’an surah Al-Insyqaq ayat 19 dan 25)
3.2.2 Simbol Matahari dalam Sajak “Semua yang Tumbuh”.
Simbol “matahari” pada sajak “semua yang tumbuh” muncul pada bait kedua, Dalam sajak “semua yang tumbuh” mempresentasikan “matahari” sebagai “harapan” dalam hidup, dalam rangka menjalani kehidupan dan pembelajaran kehidupan berawal dari mimpi.
(1) Untuk seutas esok
Tak hanya percik-percik matahari
Juga perlu segentang kenangan
...
Pada arti teks (sense) sajak “Semua yang tumbuh“ mengungkapkan peristiwa tentang perjalanan seseorang dalam kehidupan. Seperti yang kita ketahui pada bait pertama di atas menyatakan kesadaran bahwa aku-lirik ingin “menjalani kehidupan dengan baik” kepada Tuhan. Di sinilah ”matahari” sebagai simbol telah menerangkan makna dari wacana secara keseluruhan yang menerangkan sebagai ”harapan”. Dijelaskan di sini suatu pernyataan “aku-lirik” tentang pemaknaan tentang menjalani hidup yang mulai ditunjukan sebagai tujuan dari sajak “semua yang tumbuh” ini.
Tujuan “aku-lirik” untuk mencoba kembali kepada Tuhan untuk beribadah disebabkan oleh kesadarannya bahwa di dalam kehidupan terdapat banyak sekali keindahan, dan dalam menjalani kehidupan juga jangan melupakan masalalu karena masa lalu juga bagian dari mimpi kita muncul kesadaran “aku-lirik” bahwa selama kehidupan yang dilaluinya, telah muncul pula kesadaran bahwa hakikatnya ”aku-lirik” adalah milik Allah, dan dalam menjalani hidup perlu ”disiram” maksudnya juga perlu beribadah untuk bersyukur kepada Allah SWT atas hidup.
Di sini, ”matahari” menyimbolkan sebagai sebuah ”harapan”, mimpi yang akan menerangi kita, dalam masa depan kita. Hal ini akan membuat kita belajar untuk masa depan, karena dengan harapan kita akan berimajinasi sebagai motifasi dan kita akan berfikir lebih maju dengan harapan-harapan dari untuk masa depan itu. Pemaknaan ”matahari” sebagai ”harapan” terjadi karena melihat kedudukannya yang mempunyai gambaran sebagai ”percik-percik” yang memberi sinar cerah akan masa depan kita manusia dalam hidup. Dalam hakekatnya, ”semua yang tumbuh” (kehidupan) yang dimaksudkan disini berharap untuk hidup yang lebih baik dan mendapat ridlo Allah. Namun demikian kita dihimbau untuk tidak hanya melihat masa depan tetapi juga melihat masa lalu, di mana pada masa lalu itulah banyak pelajaran yang dapat kita peroleh untuk perwujudan masa depan yang lebih baik tersebut.
Dalam kehidupan manusia matahari sebagai penerang. Dalam hal ini matahari yang dipresentasikan sebagai harapan yang menjadikan jalan terbaik bagi kita dalam kehidupan dunia dan akherat. Maka tafsir atas matahari dalam simbol teks di atas disini berarti sama dengan arti bahwa matahari sebagai tempat atau sebagai harapan dalam kehidupan, artinya mimpi sebagai tujuan manusia untuk mendapat pembelajaran dan gambaran hidup yang akan dijalani.
3.2.3 Konsep Matahari dalam Pandangan Islam
Konsep matahari lahir pada bait kedua, dalam pemikiran Islam, matahari dimaknai sebagai tujuan dari kembali (sadar) kepada jalan Allah. dalam pandangan islam matahari adalah suatu benda langit ciptaan(makhluk)Allah, dan matahari sendiri merupakan benda langit yang dari dirinya sendiri memiliki kekuatan memancarkan sinar panas yanga sangat berguna bagi kehidupan biologis semua makhluk hidup yang ada di bumi, dan tanpa panas sinar matahari akan membeku dan gelap gulta, sehingga semua mak hluk hidup tidak mungkin dapat meneruskan kehidupannya.
Konsep matahari pada bait kedua diartikan sebagai harapan dan tujuan bagi setiap manusia dan mengartikan matahari sebagai pancaran sinarnya yang berupa ajaran agama islam ysebagai mana yang termuat dalam Al-Qur’an surat Al –Anfal 24 : ”Wahai orang-orang yang beriman ! penuhilah seruan Allah dan seruan Rosul apabila Rosul menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupaan kepada kalian”. 10 (Al-Qur’an surat Al –Anfal 24)
Dalam kehidupan manusia, ”matahari” hakikatnya sebagai sumber kehidupan bagi seluruh makhluk hidup, karena tanpa adanya matahari manusia tidak bisa menjalani kehidupan. Allah menciptakan matahari sebagai pusat tata surya kita, sebagai penerang di siang hari. Penerang dalam kehidupan kita yang akan menjadikan hari-hari kita cerah. Pemaknaan ”matahari” sebagai ”harapan” terjadi karena melihat kedudukannya yang mempunyai gambaran sebagai ”percik-percik” yang memberi sinar cerah akan masa depan kita manusia dalam hidup. Namun demikian kita dihimbau untuk tidak hanya melihat masa depan tetapi juga melihat masa lalu, di mana pada masa lalu itulah banyak pelajaran yang dapat kita peroleh untuk perwujudan masa depan yang lebih baik tersebut.
3.2. Analisis dalam Sajak “Ibu” dan “Madura, Akulah Darahmu” karya D,Zawawi Imran.
Pada sajak yang berjudul “Ibu” yang ditulis pada tahun 1966, idiom-idiom Madura relatif kental, dan dengan itulah Zawawi menyatakan cintanya kepada sang ibu. Saya kutip seluruhnya (D. Zawawi Imron, 1999: 3):
Ibu
kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir
bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar
ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemundian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti
bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu
bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
ibulah itu bidadari yang berselendang bianglala
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis langit biru
dengan sajakku.
Sebagaimana bagi banyak orang, bagi Zawawi ibu adalah segalanya. Yang menarik dari sajak di atas adalah bahwa dalam menyatakan cinta kepada sang ibu, Zawawi menghadirkan suasana yang relatif khas Madura: kesadaran tentang kemarau hingga sumur-sumur kering, kesadaran merantau, kesadaran tentang kekayaan laut, dan kesadaran religius. Semua itu merupakan kesadaran masyarakat Madura terhadap lingkungan alam mereka, baik daratan maupun lautan, yang terstruktur dalam sistem sosial mereka. Demikianlah para petani menyadari tentang kemarau yang di Madura terjadi relatif panjang, rata-rata selama 6 bulan pertahun, sehingga mereka menyadari pula bahaya kekeringan. Para nelayan menyadari tentang kekayaan laut, menyadari pula kemungkinan merantau lewat jalan laut itu. Dan, mereka memiliki kesadaran religius karena kuatnya pengaruh Islam di sana. Tentu saja, kenyataan seperti ini bukanlah monopoli tradisi Madura. Namun, tak bisa disangkal pula bahwa demikianlah realitas sosial-budaya masyarakat Madura.
Madura terasa kental mewarnai puisi-puisi Zawawi terutama yang terkumpul dalam Semerbak Mayang (1977), Madura, Akulah Lautmu (1978), dan Tembang Dusun Siwalan (?) —yang kemudian diterbitkan kembali bersama sejumlah puisi lain dalam Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996). Semua judul antologi tersebut menyiratkan warna lokal Madura. Lebih dari itu, judul antologi puisi terakhir sengaja diambil dari lirik nyanyian tradisional Madura, yang menyiratkan pengakuan penyair bahwa dia secara sadar memang menimba dari sumber-sumber Madura untuk puisi-puisinya dalam buku ini.
Zawawi bahkan bukan saja mengakui Madura sebagai sumber inspirasi puisi-puisinya, melainkan juga “mengankat” atau mengklaim dirinya sebagai laut dan darah Madura itu sendiri. Dia memberi judul kumpulan puisinya Madura, Akulah Lautmu, lalu menulis sebuah sajak berjudul “Madura, Akulah Darahmu”. Klaim yang sepintas terkesan ambisius ini seakan menegaskan bahwa Zawawi adalah duta Madura dalam puisi dan sastra Indonesia modern. Sejauh ini, klaim tersebut mungkin tidak berlebihan, mengingat dialah penyair (Madura) yang paling rajin menggali kekayaan alam Madura —sekali lagi: kekayaan di mata seorang penyair— untuk keperluan saja-sajaknya. Dan melalui dialah Madura hadir secara lebih kaya dan elegan dalam khazanah puisi Indonesia.
Tetapi, kemungkinan itu bukan tanpa konsekuensi, yang tampaknya tidak disadari oleh Zawawi sendiri. Konsekuensi itu adalah bahwa —setidaknya dalam kesan pribadi saya— cinta dan penghormatan Zawawi kepada Madura terasa lebih besar daripada cinta dan penghormatannya kepada sang ibu. Benar bahwa ibu adalah segalanya, namun bagi Zawawi Madura lebih dari segalanya. Hal ini terutama terlihat dari cara Zawawi memposisikan diri (baca: aku-lirik) di hadapan ibu dan Madura, dan cara Zawawi memposisikan ibu dan Madura itu sendiri di hadapan dirinya (baca: aku-lirik).
“Madura, Akulah Darahmu”
(D. Zawawi Imron, 1996: 98-99):
Di atasmu, bongkahan batu yang bisu
Tidur merangkum nyala dan tumbuh berbunga doa
Biar berguling di atas duri hati tak kan luka
Meski mengeram di dalam nyeri cinta tak kan layu
Dan aku
Anak sulung yang sekaligus anak bungsumu
Kini kembali ke dalam rahimmu, dan tahulah
Bahwa aku sapi kerapan
Yang lahir dari senyum dan airmatamu
Seusap debu hinggaplah, setetes embun hinggaplah,
Sebasah madu hinggaplah
Menanggung biru langit moyangku, menanggung karat
Emas semesta, menanggung parau sekarat tujuh benua
Di sini
Perkenankan aku berseru:
- madura, engkaulah tangisku
bila musim labuh hujan tak turun
kubasuhi kau dengan denyutku
bila dadamu kerontang
kubajak kau dengan tanduk logamku
di atas bukit garam
kunyalakan otakku
lantaran aku adalah sapi kerapan
yang menetas dari senyum dan airmatamu
aku lari mengejar ombak, aku terbang memeluk bulan
dan memetik bintang-gemintang
di ranting-ranting roh nenekmoyangku
di ubun langit kuucapkan sumpah:
- madura, akulah darahmu.
Dalam “Ibu”, aku-lirik jelas memposisikan diri sebagai anak dan memposisikan “engkau” sebagai ibu (… aku tahu/ engkau ibu dan aku anakmu). Aku-lirik juga memposisikan diri sebagai seorang anak yang merasa … hutangku padamu tak kuasa kubayar. Sementara itu, kalau aku merantau lalu datang musim kemarau, sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting, aku-lirik memposisikan ibu sebagai satu-satunya … mataair airmata … yang tetap lancar mengalir. Aku-lirik juga memposisikan ibu sebagai gua pertapaan dan orang … yang meletakkan aku di sini. Bila kasih ibarat samudera, maka lautan teduh akan terasa sempit, dan itu berarti semua kandungan lautan —lokan-lokan, mutiara, kembang laut— adalah bagi aku-lirik sendiri. Paling jauh, bagi aku-lirik, ibu adalah bidadari yang berselendang bianglala.
Bandingkan dengan cara Zawawi (basa: aku-lirik) memposisikan diri di hadapan Madura dan sebaliknya dalam “Madura, Akulah Darahmu”. Di situ, aku-lirik jelas mengambil posisi sebagai anak sulung yang sekaligus anak bungsumu (Madura), bukan sekedar anak dari seorang ibu. Aku-lirik menegaskan, biar berguling di atas duri hati tak kan luka/ meski mengeram di dalam nyeri cinta tak akn layu —satu penegasan bahwa aku-lirik akan memberikan seluruh pengorbanan dan cintanya kepada Madura. Bahkan, aku [adalah] sapi kerapan/ yang lahir dari senyum dan airmatamu. Itu sebabnya cinta dan penghormatan aku-lirik kepada Madura bersifat tegas dan aktif: bila musim labuh hujan tak turun/ kubasuhi kau dengan denyutku/ bila dadamu kerontang/ kubajak kau dengan logamku. Tidak mengherankan kalau puisi itu diakhiri dengan sumpah aku-lirik: madura, akulah darahmu.
Sementara itu, Madura diposisikan sebagai semesta yang teramat luas, lebih luas daripada sekedar gua pertepaan atau samudera: pulau itu menanggung biru langit moyangku, menanggung karat/ emas semesta, menanggung parau sekarat tujuh benua. Aku-lirik bahkan berseru, madura, engkaulah tangisku. Sedari awal telah dikemukakan imaji-imaji yang bersifat aktif: di atasmu, bongkohan batu yang biru/ tidur merangkum nyala dan tumbuh berbunga doa.
Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa dalam puisi “Ibu” aku-lirik memposisikan diri sebagai seorang anak yang cinta dan penuh hormat kepada sang ibu, tapi cinta dan hormat itu bersifat pasif belaka. Ibu pun diposisikan sebagai gua pertapaan, pahlawan, dan bidadari yang berselendang bianglala. Sementara dalam “Madura, Akulah Darahmu”, aku-lirik bukan saja memposisikan diri sebagai seorang anak, melainkan anak sulung sekaligus anak bungsu. Lebih dari itu, seluruh cinta, penghormatan, dan kesediaan aku-lirik berkorban demi Madura bersifat aktif dan tegas. Berbeda juga dengan ibu, Madura diposisikan sebagai tangis sekaligus semesta yang teramat luas, bahkan tak terhingga, menanggung pula beban yang teramat berat: biru langit, emas semesta, sekarat tujuh benua.
Kesimpulan ini mungkin berkaitan dengan pekembangan daya ungkap kepenyairan Zawawi, karena puisi “Ibu” ditulis pada tahun 1966, sedangkan “Madura, Akulah Darahmu” ditulis pada tahun 1980. Tapi di tahun 1980 juga, Zawawi menulis sajak “Kepada Ibu” (D. Zawawi Imron, 1985: 82), yang pada hemat saya justru tidak lebih “matang” dibandingkan “Ibu”, tidak pula mengungkapkan cinta dan penghormatan secara lebih mendalam kepada Ibu. Maka melihat sejumlah sajaknya tentang ibu dan Madura, saya cenderung mengatakan bahwa keterlibatan Zawawi dengan kekayaan alam Madura —yang dilakukan secara intens hampir sepanjang kariernya sebagai penyair— membangun tumpukan tak-sadar tertentu tentang Madura, yang tersublimasi dalam sajak. Dengan kata lain, cinta dan penghormatannya terhadap Madura yang amat besar, melebihi cinta dan penghormatannya kepada ibu, merupakan ungkapan tak-sadar dari kekagumannya terhadap kekayaan alam Madura itu sendiri.
4. KESIMPULAN
Penelitian ini menggunakan perspektif hermeneutika Ricoeur. Makna “Kasidah” pada sajak “Lagu Rahasia” dalam kumpulan puisi “Kujilat Manis Empedu” karya D. Zawawi Imron, merepresentasikan makna sebagai “doa”. Makna doa ini dibangun atas wacana yang ada dalam empat bait dalam sajak. Menurut arti sebenarnya kasidah merupakan suara berirama yang dikeluarkan oleh seseorang. Karena dalam sajak”Lagu Rahasia” mengacu pada permohonan sakral yang dilakukan aku-lirik kepada Tuhan-nya, maka kasidah merujuk pada arti simbol sebagai “doa”. Simbol “kasidah” sendiri mempunyai kandungan yang kaya akan orientasi cinta.
Dalam pengartian isi sajak, peran bait melalui baris-baris kata merupakan kunci pokok yang memunculkan anggapan bahwa “Aku-lirik” selalu bermunajat dalam menghadapi masalah. Jadi makna “Kasidah” adalah berpalingnya seseorang dengan tulus ikhlas kepada Allah, dan memohon pertolongan dari-Nya, Yang Mahakuasa, Maha Pengasih dan Penyayang, dengan kesadaran bahwa dirinya adalah wujud yang memiliki ketergantungan.
Pada kenyataannya kasidah merupakan suara yang berirama yang dikeluarkan oleh manusia dan dikelua rkan dengan suara yang lantang agar didengar oleh orang banyak. Tetapi disini, kasidah dipanjatkan hanya didalam hati, hal ini merupakan wujud dari doa..
Maka kesadaran “Aku-lirik” sebagai hamba Allah mengungkapkan bahwa dirinya adalag makhluk biasa yang selalu membetuhkan pertolongan dari Sang Pencipta. “Aku-lirik” menyadari bahwa dia bisa hidup karena Allah SWT., maka dari itu Aku-lirik bernunajat, berserah diri pada Sang Pencipta dengan cara menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangannya karena Allah SWT. Dan selalu percaya bahwa Allah SWT selalu menolong hambaNya yang sedang mengalami musibah. Selain berserah diri dengan Sang Pencipta Aku-Lirik juga berusaha agar apa yang menjadi tujuannya akan tercapai.
Penelitian yang dilakukan oleh penulis dengan judul “Semua yang Tumbuh”, yang dapat disimpulkan sebagai berikut.
“Matahari”, secara simbolis, muncul pada bait kedua, pada bait itu matahari sebagai simbol yang mennggantikan sesuatu. “matahari“, secara metafora, menyiratkan suatu arti tentang “Harapan”.
Pembacaan hermeneutik dalam kumpulan puisi Kujilat Manis Empedu karya D.Zawawi Imron ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami makna yang terkandung didalamnya. Maka-makna yang terkandung dalam sajak tersebut mengandung nilai kehidupan yang berhubungan dengan ketuhanan.
Oleh karena itu sajak-sajak yang dikaji di sini tentang matahari yang menunjukan kesadaran “aku-lirik” sebagai manusia yang memiliki harapan dalam menyikapi kehidupan dunia agar menemukan hidup yang baik, selamat dunia dan akhirat dengan ridlo Allah. Keadaan ini mengindikasikan bahwa “aku-lirik” sebagai hamba Allah yang memiliki harapan-harapan besar tentang hidupnya. Dari penelitian ini, diharapakan pembaca dapat lebih mudah untuk memahami dan menafsirkan khususnya sajak “Semua yang Tumbuh”, dan terlebih sajak-sajak lain dalam kumpulan puisi Kujilat Manis Empedu karya D. Zawawi Imron.
Kesadaran “aku-lirik” tentang harapannya kepada Tuhan sebagai esensi kehidupan sebagai manusia yang memiliki keingina dan impian dalam kehidupan yang akan menyelamatkan kehidupan manusia dari ilusi duniawi. Dengan itu kita wajib kberibadah kepada Allah SWT. Manusia tumbuh dalam kehidupan karena Allah SWT, manusia hakikat manusia yang memiliki harapan mempunyai mimpi pastilah memiliki gambaran apa yang akan ia lakukan dalam hidupnya. Demi ridlo Allah atas hidup kita, bagaimana kita memahami hidup. Siramilah hidup kita yang singkat ini dengan ibadah taqwa kepada Allah SWT, karena kita telah diberikan-Nya hidup dan harapan dalam hidup.
DAFTAR PUSTAKA
Abdilah, Pius dan Danu Prasetya. 2004. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Surabaya : Arkola
Departemen Agama RI. 1997. Al-Qur’an dan Terjemahannya Jus 1-30. Surabaya : U.D Mekar
Kurniawan, Heru. 2009. Mistisisme Cahaya. Yogyakarta : Gralindo Literatur Media
Wachid B.S., Abdul.2005. Membaca Makna. Yogyakarta: Grafindo Litera Media.
Wachid B.S., abdul.2008. Gandrung Cinta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Zawawi, Imron. D. 2003. Kujilat Manis Empedu. Yogyakarta : Grama Media
WEBSITE
Biografi D.Zawawi Imron
Duta Madura untuk Sastra Indonesia Modern
http://id.wikipedia.org/wiki/etimologi-metafora
http://id. Wikimedia. org/wiki/etimologi-symbol
http://id.wikipedia.org/wiki/etimologi-hermeneutika.
thanks ats ilmus mbb....salm kenal
BalasHapus